(yaitu)
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun
sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS.Ali-Imran :134)
Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa sedetikpun melepaskan bantuan
dari orang lain, semua yang kita makan,minum, pakai, lihat pasti ada
orang lain yang berperan didalamnya. dalam kehidupan sehari-hari tidak
jarang kita mendapati orang lain membantu pekerjaan kita ataupun
sebaliknya, kita membantu pekerjaan orang lain. Namun dalam dinamika
sosial, hubungan individu dengan individu yang lain tidak selamanya
baik, kadang kita mendapatkan ketidak se-pahaman dengan orang lain yang
membuat kita kadang merasa jengkel berujung marah. Begitu pula orang
lain, kadang karena perbuatan kita, banyak orang merasa risih dan
terganggu, baik disadari atau tidak sama sekali. Begitu pula dengan hal
menyangkut perekonomian, keadaan ekonomi seseorang tidak selalu cukup dan
tidak selamanya kurang asal ia mau berusaha, kita sering sekali
menemukan orang-orang menengadahkan tangan di perempatan jalan untuk
sesuap nasi, juga banyak orang yang berlomba-lomba memberikan harta
terbaiknya untuk menolong kehidupan sesama, hal ini tentu merupakan dari
ragam warna kehidupan yang menuntut kita mampu memilih sikap sesuai
keadaan.
Allah Swt dalam wahyu yang Ia
turunkan melalui Jibri As kepada Nabi Muhammad Saw memberikan arahan
langsung apa yang harus kita perbuat dalam dahsyatnya gelombang
pergaulan manusia. Allah mengajarkan kepada kita untuk meng-infaq-kan
harta kita baik dalam keadaan lapang maupun sempit dan menahan amarah
dan memaafkan kesalahan orang lain sebagaimana yang telah saya kutip
dari ayat al-Qur’an diatas.
Al-Maraghi menuliskan
dalam kitabnya bahwa melakukan infaq dalam dua kondisi, yaitu mudah dan
sempit menunjukan ketaqwaan (al-Maraghi juz IV:117), kita bisa
mengeluarkan infaq bergantung pada kemampuan kita, kita bisa memberikan
infaq kepada pengamen di Bus Damri saat kita pulang sekolah, membayar
infaq bulanan atau biasa kita kenal dengan Uang Kas, memberikan ongkos lebih kepada Mang Becak yang bersedia mengantarkan kita tepat di depan sekolah, atau mentraktir makan siang teman yang membawa bekal pas-pasan dengan niat semata-mata karena Allah Swt.
Dalam menyikapi sifat manusia yang kadang tidak sesuai dengan
kepribadian kita pun Allah Swt telah memberikan arahannya kepada kita
untuk senantiasa bisa bersabar dan memberi maaf kepada orang lain. Orang
yang menahan dan mengekang perasaan amarahnya, tidak mau melampiaskan,
sekalipun hal itu bisa saja ia lakukan merupakan perbuatan yang jarang
bisa dilakukan oleh setiap orang (al-Maraghi Juz IV:121). Setiap hari
kita disibukan dengan situasi yang kadang kala menguras kesabaran kita,
lalu lintas yang macet, pengendara lain yang menabrak dari belakang,
teman yang sulit sekali mengerti saat kita menjelaskan materi dalam
tugas kelompok, teman yang mengobrol pertandingan bola semalam padahal
guru sedang seru menjelaskan bab fluida saat pelajaran fisika, atau
amanah kepanitiaan yang begitu banyak sampai-sampai kita sibuk oleh sms
undangan rapat yang mengganggu jam tidur siang. Semua ini bisa kita
lalui dengan perasaan senang tentu jika kita melewatinya dengan
kesabaran. Belum lagi kesabaran akan meningkatkan derajat kita jauh
diatas orang-orang yang tidak bisa menahan emosinya.
Dalam sisa umur kita yang kian hari kian berkurang kita bersama
bertekad untuk meningkatkan kesabaran, kepekaan sosial kita dengan
berinfaq dalam keadaan lapang dan sempit dengan niat semata-mata karena
Allah, bersabar dalam menjalankan amanah dengan baik, bekerja sesuai
porsi dan fungsi. berharap kita bisa masuk dalam golongan orang-orang
yang dicintai-Nya, masuk kedalam surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan.
Mulailah dari hal yang terkecil, karena sesuatu yang besar dimulai
dengan hal yang kecil dan kehidupan sukses dimasa depan dimulai dari
hari ini.(Trias, 2012)
Oleh Trias Abdullah (Sekretaris PP.IPP)
Diposkan Oleh Dept.Komunikasi-Informasi PP.IPP